Sunday, 7 September 2014

Perbedaan Insan dan Basyar



Perbedaan Insan dengan Basyar
Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being)
Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).  Artinya,  manusia dalam kategori basyar adalah makhluk yang statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis.
Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia dapat lebih kejam dari hewan
2. Insan : Manusia Menjadi (Becoming)
Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. (Shari’ati, 1982: 62)
Perbedaan basyar dengan insan sudah jelas ,Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. (Shari’ati, 1982: 69)
1.                  Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan pengalaman  tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71).
2.                  Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya.
3.                  Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi kreatif insan memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda, barang dan alat, dari yang paling kecil sampai yang kolosal, karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. (Shari’ati, 1982: 72-73)
tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. Ilmu dapat membebaskan manusia dari penjara alam, sejarah dan masyarakat.  Dengan ilmu, insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam, masyarakat dan sejarah.  Sehingga, insan dapat  lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. Sementara itu, penjara terakhir manusia, yakni penjara ego (diri), tidak dilawan dengan ilmu, tapi dengan cinta. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak, memberontak, dan mengorbankan diri demi suatu cita-cita atau orang lain. (Shari’ati, 1982: 99) Jadi, secara singkat, manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga, ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya.  Tiga sifat, yang bentuk nyatanya adalah ilmu, adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia, yaitu penjara alam, sejarah dan masyarakat. Sedangkan, penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya.

No comments:

Post a Comment