Perbedaan Insan dengan
Basyar
Basyar : Manusia Sekedar
Ada (Being)
Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).
Artinya, manusia dalam kategori basyar adalah makhluk yang
statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka
bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi
yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man
and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti
fisis-biologis.
Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda
dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula
hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan
nistanya, maka manusia dapat lebih kejam dari hewan
2. Insan :
Manusia Menjadi (Becoming)
Insan berarti manusia dalam arti yang
sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih
terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak
semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai
tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”.
(Shari’ati, 1982: 62)
Perbedaan basyar dengan insan sudah jelas ,Insan
memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas.
(Shari’ati, 1982: 69)
1.
Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri
merupakan pengalaman tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan
hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga
unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih
tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71).
2.
Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak
dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih.
Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya,
atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan
memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya
menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya.
3.
Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi
kreatif insan memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta
benda, barang dan alat, dari yang paling kecil sampai yang kolosal, karya-karya
industri dan seni yang tak disediakan alam. Penciptaan dan pembuatan barang
tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang
dibutuhkannya. (Shari’ati, 1982: 72-73)
tiga sifat insan tersebut adalah ilmu.
Ilmu dapat membebaskan manusia dari penjara alam, sejarah dan masyarakat.
Dengan ilmu, insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam,
masyarakat dan sejarah. Sehingga, insan dapat lolos
dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan
itu. Sementara itu, penjara terakhir manusia, yakni penjara ego (diri), tidak
dilawan dengan ilmu, tapi dengan cinta. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong
manusia untuk menolak, memberontak, dan mengorbankan diri demi suatu cita-cita
atau orang lain. (Shari’ati, 1982: 99) Jadi, secara singkat, manusia menjadi
(insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga, ke kesempurnaan
berbekal tiga sifat dasariahnya. Tiga sifat, yang bentuk nyatanya adalah
ilmu, adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia, yaitu penjara
alam, sejarah dan masyarakat. Sedangkan, penjara terakhir (ego) dilawan dengan
cinta kasih. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar
manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya.
No comments:
Post a Comment