Listrik
yang Dibangkit
Listrik
merupakan energi, daya atau kekuatan yang ditimbulkan oleh adanya
pergesekan ataupun melalui sebuah proses kimia dimana hasil dari proses kimia
tersebut bisa digunakan untuk menghasilkan panas, cahaya, atau bahkan bisa dimanfaatkan
untuk menggerakkan sebuah mesin.
Listrik
terbagi atas dua:
1. Alami
yaitu terjadi pada proses tanpa campur tangan manusia seperti Kilat
2. Buatan
yaitu dibuat melalui alat - alat pembangkit Listrik seperti PLTA,PLTU,PLTG,PLTD
dll
Proses
pembangkit yang dibahas disini adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Besar energi yang dapat dibangkitkan pada pembangkit listrik tenaga air
ditentukan oleh 2 (dua) faktor, yaitu :
1.
Beda ketinggian
antara bagian atas aliran air sebelum masuk pipa pesat dengan ketinggian air
saat keluar pipa pesat, atau lazim disebut sebagai Head.
2.
Debit aliran
air yang mengalir melalui pipa pesat dan menggerakkan turbin
Pembangkitan
dan Penyaluran Secara Umum pada PLTA
Langkah pertama Air akan masuk dalam sebuah
saluran.Saluran air itu menyebabkan perputaran pada turbin yang menghasilkan
listrik di dalam generator.Listrik di Generator ini masih merupakan tahap awal
dengan tegangannya 6.000 - 21.000 volt
Tahap
selanjutnya Listrik yang baru lahir tersebut akan disalurkan ke Gardu Induk
Tegangan Ekstra tinggi (GITET) yang mana ada transformator raksasa yang
digunakan untuk Menyesuaikan tegangannya
menjadi 500 ribu volt.Karena untuk mengecilkan arusnya dan meningkatkan
tegangannya agar dapat disalurkan ke kawat - kawat listrik yang disebut saluran
udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) menuju transformator (lagi) dan menurunkan
tegangannya kembali menjadi 150.000 volt.Hal ini dikarenakan jarak untuk mengalirkannya
tidak sejauh sebelumnya
Lalu
Listrik ini mengalir ke Trafo yang ada pada gardu induk untuk memperkecil
tegangannya lagi menjadi 20.000 volt dan dialirkan lagi ke trafo yang ada pada
tiang - tiang listrik dan mulai disalur - salurkan ke konsumen.
Dan ternyata menurut
konfigurasinya penyaluran dibagi atas beberapa macam
1. Menurut
nilai tegangannya:
(1)
Saluran distribusi Primer, Terletak pada sisi
primer trafo distribusi, yaitu
antara titik Sekunder trafo substation
(Gardu Induk) dengan titik
primer trafo distribusi. Saluran
ini bertegangan menengah 20 kV. Jaringan listrik 70 kV atau 150 kV, jika langsung melayani
pelanggan, bisa disebut jaringan distribusi.
(2)
Saluran
Distribusi Sekunder, Terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu
antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban
2. Menurut bentuk tegangannya:
a)
Saluran Distribusi DC (Direct Current)
menggunakan sistem tegangan searah.
b)
Saluran Distribusi AC (Alternating Current)
menggunakan sistem tegangan bolak-balik.
3. Menurut jenis/tipe konduktornya:
a. Saluran udara, dipasang pada udara terbuka dengan bantuan penyangga (tiang) dan perlengkapannya, dan dibedakan atas:
- Saluran kawat udara, bila konduktornya telanjang, tanpa isolasi pembungkus.
- Saluran kabel udara, bila konduktornya terbungkus isolasi.
b. Saluran Bawah Tanah, dipasang di dalam tanah, dengan menggunakan kabel tanah (ground cable).
c. Saluran Bawah Laut, dipasang di dasar laut dengan menggunakan kabel laut (submarine cable)
a. Saluran udara, dipasang pada udara terbuka dengan bantuan penyangga (tiang) dan perlengkapannya, dan dibedakan atas:
- Saluran kawat udara, bila konduktornya telanjang, tanpa isolasi pembungkus.
- Saluran kabel udara, bila konduktornya terbungkus isolasi.
b. Saluran Bawah Tanah, dipasang di dalam tanah, dengan menggunakan kabel tanah (ground cable).
c. Saluran Bawah Laut, dipasang di dasar laut dengan menggunakan kabel laut (submarine cable)
4. Menurut susunan (konfigurasi) salurannya:
a. Saluran Konfigurasi horizontal, bila saluran fasa terhadap fasa yang lain/terhadap netral, atau saluran positip terhadap negatip (pada sistem DC) membentuk garis horisontal.
b. Saluran Konfigurasi Vertikal, bila saluran-saluran tersebut membentuk garis vertikal
a. Saluran Konfigurasi horizontal, bila saluran fasa terhadap fasa yang lain/terhadap netral, atau saluran positip terhadap negatip (pada sistem DC) membentuk garis horisontal.
b. Saluran Konfigurasi Vertikal, bila saluran-saluran tersebut membentuk garis vertikal
c. Saluran konfigurasi
Delta, bila kedudukan saluran satu sama lain membentuk suatu segitiga (delta).
No comments:
Post a Comment